Tuesday, October 7, 2014

kenapa ? (part 1)



M
anusia adalah makhluk yang berpikir. Ia akan memikirkan apa saja yang terjadi di sekelilingnya, termaksud memikirkan musibah atau kesedihan yang menimpanya. Tetapi biasanya manusia yang sedang ditimpa musibah tidak bisa berfikir dengan jernih, mereka hanya bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang kesedihannya saja. Di saat seperti ini, semua hal yang ia pikirkan akan menjadi sangat subjektif, tidak rasional, dan cenderung kufur.

Apabila seseorang sedang bersedih, seakan-akan apa yang ia alami berubah menjadi kesedihan dan menyakitkan. Jika ia melihat sesuatu, matanya menatap tetapi berada ditempat lain. Jika ia bersama seseorang, hanya fisik yang hadir sedangkan pikirannya melayang entah kemana. Di mana pun ia berada, apa pun yang ia lihat, setiap sensasi yang ia rasakan seakan-akan berubah menjadi kesedihan.

“semua yang aku lihat. Semua yang aku dengar.
Semua yang aku rasakan. Semuanya menyakitkan”

Jika manusia ditimpa suatu kemalangan, seperti ada sebuah Batu Besar yang menghalangi jalannya sehingga ia tidak bisa melihat dan berpikir apa-apa. Segala sesuatu yang ia rasakan hanyalah musibah dan kesedihan saja. Hal ini menyebabkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan anda bukannya memberikan jalan keluar, tetapi malah akan menambah keruwetan masalah anda sendiri.
Anda pasti juga sering bertanya kepada diri sendiri jika ditimpa suatu musibah, bukan ? pertanyaan yang diajukan ada banyak sekali macamnya, tetapi pada intinya biasanya manusia mempertanyakan satu hal yang paling tidak dia mengerti kenapa?.
 
KENAPA AKU ?

Kenapa aku yanh harus mengalami kesedihan ini ?
Kenapa bukan orang lain?

Kenapa aku? Disinilah sifat manusia yang paling utama muncul egois. Manusia adalah makhluk yang berego, makhluk yang sangat mementingkan dirinya sendiri. Apabila manusia mengalami sesuatu, ia akan selalu menghubung-hubungkan kejadian itu dengan dirinya

Bagaimana nasibku sekarang ?
Apa pengaruh kejadian ini pada diriku ?
Apa yang harus kulakukan?

Manusia selalu mendahulukan kepentingannya sendiri diatas kepentingan orang lain. Begitu pula apabila ia ditimpa musibah, ia akan lebih dulu mengkhawatirkan bagaimana nasib dirinya sendiri, bukan nasib orang lain.

Sebagai contoh, ada seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya. Di dalam kesedihannya, ia terus menangis dan berkata-kata kepada dirinya sendiri “wahai suamiku, betapa malangnya diriku kehilanganmu. Kenapa engkau meninggalkanku? Engkau tidak tahu betapa sedihnya aku ditinggal dirimu selamanya. Bagaimana kini aku harus hidup tanpamu? Bagaimana kini aku harus menjalani hidupku sehari-hari?”

Di sini dapat kita lihat, biasanya orang yang ditimpa musibah akan memikirkan dirinya sendiri. Si istri sedih bukan karena suaminya meninggal, tetapi karena ia takut tidak bisa hidup tanpanya.

Manusia juga biasanya merasa dirinya tidak layak menerima musibah yang ditimpakan kepadanya. Ia merasa berhak memilih-milih kesedihan apa yang berhak ia terima. Ia merasa bahwa kesedihan ini pantas ditimpakan kepada si A, dan kesedihan itu pantas ditimpakan kepada si B misalnya.

Sebagai contoh, ada seorang miskin yang kebetulan ditimpa penyakit yang begitu membuatnya menderita. Untuk berobat, ia harus mengeluarkan biaya banyak sekali sedangkan ia sama sekali tidak punya uang untuk itu, bahkan untuk makan saja kadang ia harus meminta-minta ke sana ke mari. Di saat seperti itu, ia mulai berpikir dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “ya tuhan, kenapa aku yang harus sakit seperti ini? Aku’kan tidak punya uang untuk berobat? Kenapa bukan orang kaya saja yang kautimpakan penyakit ini?”

Sekali lagi ego tampak bekerja dengan baik melindungi manusia dari hal-hal yang bisa menyakiti dirinya. Ego manusia tidak rela kesedihan terjadi pada dirinya, ia menganggap itu tidak pantas didapatkannya, ia menganggap dirinya lebih baik dari yang lainnya, ia bahkan rela melihat orang lain yang ditimpa musibah asalkan dirinya bisa selamat dan bahagia.

Jika kita renungkan dengan seksama, musibah itu menimpa setiap orang tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah ia raja atau orang biasa, apakah ia miskin atau kaya, apakah ia alim atau bejat, semua orang pastilah akan ditimpa musibah dan kesedihan yang sama

TUHAN ITU MAHA ADIL

Jangan mengira andalah yang paling berhak menentukan segala sesuatu untuk diri anda, jangan mengira bahwa anda lebih layak dapat musibah ini, sedangkan orang lain lebih layak dapat musibah itu. Semua sudah “ditimbang” oleh Allah berdasarkan peran kita masing-masing. Allah sudah tau siapa saja yang mampu menerima setiap cobaan yang akan ditimpakan oleh-Nya.

Jadi janganlah gundah, wahai saudaraku. Jika anda sedang mengalami suatu kesedihan, jangan merasa bahwa kesedihan itu begitu berat bagi anda dan tidak dapat diobati. Janganlah merasa Allah tidak tahu keadaan diri kita dan menimpakan musibah yang tidak sesuai dengan diri kita atau memberi beban yang tidak mampu kita pikul.

Kesedihan anda PASTI akan hilang, pasti dapat diobati, PASTI dapat anda atasi. Karena Allah sudah mengukur setiap kesedihan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuan (orang tersebut).” QS. Al Baqarah: 286

KENAPA HARUS TERJADI BEGINI ?

Kenapa ini harus terjadi ?
Apa salahku kepada-Mu, ya Allah ?

Sebagia besar dari apa yang kita alami tidak kita ketahui penyebabnya. Kadang suatu hal terjadi tanpa kita ketahui darimana asalnya, kita tidak tahu darimana ia bisa terjadi seperti itu, dan kita tidak tahu apa akibatnya.
Manusia tidak bisa menentukan apa yang terjadi pada dirinya. Walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin mengantisipasi segala kemungkinan, tetap saja yang terjadi kadang-kadang berada di luar kemampuan kita.

Sebagai contoh, ada seorang anak lelaki yang baik. Ia rajib belajar dan berdoa, karena ia bersungguh-sungguh ingin mencapai masa depan yang baik untuk dia sendiri maupun untuk kedua orangtuanya. Ia begitu memperhatikan keselamatan dirinya sendiri. Ia merawat mobilnya dengan baik dan membawa kendaraannya dengan hati-hati, bahkan sebelum berangkat pun ia selalu berdoa untuk diberi keselamatan dalam perjalanan.

Tetapi pada suatu hari, ia mengalami kecelakaan fatal yang nyaris merenggut nyawanya. Walaupun selamat, sayang sekali ia harus merelakan kedua kakinya untuk diamputasi. Ya, sejak itu ia cacat seumur hidupnya. Masa depannya yang begitu cerah seakan-akan hancur begitu saja didepan matanya.

Di saat berat seperti ini, jiwa yang kuat pun kdang-kadang tidak mampu menerima beban sebesar itu. Lahi-lagi hati akan bertanya-tanya, “kenapa ini harus terjadi, ya Allah? Padahal aku punya niat baik, aku sudah berusaha dengan baik, aku sudah berdoa kepada-Mu dengan baik. Kenapa masih saja engkau timpakan musibah ini?”

Jika dipikir-pikir, anak itu memang benar. Ia sudah berhati-hati, ia sudah membawa mobilnya perlahan-lahan, ia selalu berdoa sebelum berangkat,tetapi kenapa masih saja ia mengalami kecelakaan? Ia sudah mengantisipasi semua hal, tetapi kenapa masih saja ditimpa kemalangan? Kenapa hal ini harus terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang selalu di lontarkan oleh orang-orang yang bingung, yang tidak mengerti kenapa sesuatu bisa terjadi padanya. Adakah yang bisa menjawab semua ini? Mungkin anda bisa bertanya kepada diri anda sendiri ribuan kali, anda bisa menanyakan kepada teman atau saudara atau siapa saja, anda juga bisa menanyakan kepada Allah setiap malam, tetapi saya yakin ANDA TIDAK AKAN TAHU JAWABANNYA.

Kenapa aku ditimpa musibah seperti ini sedangkan orang lain ditimpa musibah seperti itu? Hanya Allah-lah yang mengetahui jawabannya. Kita hanyalah wayang-wayang yang telah peran yang telah diciptakan menjadi sopir, menjadi orang alim, penjahat, dan sebagainya. Seiring dengan peran kita, Allah juga telah menyiapkan suatu cerita untuk kita. Ada yang mendapat cerita (kehidupan) yang indah, ada yang ditimpa musibah seperti ini, ada yang seperti itu dan sebagainya.

“…. Katakanlah : sekiranya kamy berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati itu juga ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah berbuat (demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah maha mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran : 154)

ayat diatas aslinya diturunkan kepada ummat Rasulullah saw. Yang tidak mau  mengikuti perintah nabi untuk berperang karena mereka takut terbunuh. Ayat tersebut menjelaskan, walaupun anda tinggal dirumah saja tetapi jika anda telah ditakdirkan untuk mati, tetap tidak ada satu pun yang bisa menolaknya.

A.K (2014). Ya Allah, Tolong Aku. PT Elex Media Komputindo : Jakarta.



No comments:

Post a Comment