|
M
|
anusia adalah makhluk yang berpikir. Ia akan memikirkan apa saja yang
terjadi di sekelilingnya, termaksud memikirkan musibah atau kesedihan yang
menimpanya. Tetapi biasanya manusia yang sedang ditimpa musibah tidak bisa
berfikir dengan jernih, mereka hanya bisa melihat segala sesuatu dari sudut
pandang kesedihannya saja. Di saat seperti ini, semua hal yang ia pikirkan akan
menjadi sangat subjektif, tidak rasional, dan cenderung kufur.
Apabila seseorang sedang bersedih, seakan-akan apa yang ia alami berubah
menjadi kesedihan dan menyakitkan. Jika ia melihat sesuatu, matanya menatap
tetapi berada ditempat lain. Jika ia bersama seseorang, hanya fisik yang hadir
sedangkan pikirannya melayang entah kemana. Di mana pun ia berada, apa pun yang
ia lihat, setiap sensasi yang ia rasakan seakan-akan berubah menjadi kesedihan.
“semua yang aku lihat. Semua yang aku
dengar.
Semua yang aku rasakan. Semuanya menyakitkan”
Jika manusia ditimpa suatu kemalangan, seperti ada sebuah Batu Besar yang
menghalangi jalannya sehingga ia tidak bisa melihat dan berpikir apa-apa. Segala
sesuatu yang ia rasakan hanyalah musibah dan kesedihan saja. Hal ini
menyebabkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan anda bukannya memberikan jalan
keluar, tetapi malah akan menambah keruwetan masalah anda sendiri.
Anda pasti juga sering bertanya kepada diri sendiri jika ditimpa suatu
musibah, bukan ? pertanyaan yang diajukan ada banyak sekali macamnya, tetapi
pada intinya biasanya manusia mempertanyakan satu hal yang paling tidak dia
mengerti kenapa?.
KENAPA AKU ?
Kenapa aku yanh harus mengalami kesedihan
ini ?
Kenapa bukan orang lain?
Kenapa aku? Disinilah sifat manusia yang paling utama muncul egois. Manusia adalah makhluk yang
berego, makhluk yang sangat mementingkan dirinya sendiri. Apabila manusia
mengalami sesuatu, ia akan selalu menghubung-hubungkan kejadian itu dengan
dirinya
Bagaimana nasibku sekarang ?
Apa pengaruh kejadian ini pada diriku ?
Apa yang harus kulakukan?
Manusia selalu mendahulukan kepentingannya sendiri diatas kepentingan
orang lain. Begitu pula apabila ia ditimpa musibah, ia akan lebih dulu
mengkhawatirkan bagaimana nasib dirinya sendiri, bukan nasib orang lain.
Sebagai contoh, ada seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya. Di dalam
kesedihannya, ia terus menangis dan berkata-kata kepada dirinya sendiri “wahai
suamiku, betapa malangnya diriku kehilanganmu. Kenapa engkau meninggalkanku? Engkau
tidak tahu betapa sedihnya aku ditinggal dirimu selamanya. Bagaimana kini aku
harus hidup tanpamu? Bagaimana kini aku harus menjalani hidupku sehari-hari?”
Di sini dapat kita lihat, biasanya orang yang ditimpa musibah akan
memikirkan dirinya sendiri. Si istri sedih bukan karena suaminya meninggal,
tetapi karena ia takut tidak bisa hidup tanpanya.
Manusia juga biasanya merasa dirinya tidak layak menerima musibah yang
ditimpakan kepadanya. Ia merasa berhak memilih-milih kesedihan apa yang berhak
ia terima. Ia merasa bahwa kesedihan ini pantas ditimpakan kepada si A, dan
kesedihan itu pantas ditimpakan kepada si B misalnya.
Sebagai contoh, ada seorang miskin yang kebetulan ditimpa penyakit yang
begitu membuatnya menderita. Untuk berobat, ia harus mengeluarkan biaya banyak
sekali sedangkan ia sama sekali tidak punya uang untuk itu, bahkan untuk makan
saja kadang ia harus meminta-minta ke sana ke mari. Di saat seperti itu, ia
mulai berpikir dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “ya tuhan, kenapa aku
yang harus sakit seperti ini? Aku’kan tidak punya uang untuk berobat? Kenapa bukan
orang kaya saja yang kautimpakan penyakit ini?”
Sekali lagi ego tampak bekerja dengan baik melindungi manusia dari
hal-hal yang bisa menyakiti dirinya. Ego manusia tidak rela kesedihan terjadi
pada dirinya, ia menganggap itu tidak pantas didapatkannya, ia menganggap
dirinya lebih baik dari yang lainnya, ia bahkan rela melihat orang lain yang
ditimpa musibah asalkan dirinya bisa selamat dan bahagia.
Jika kita renungkan dengan seksama, musibah itu menimpa setiap orang
tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah ia raja atau orang biasa, apakah ia
miskin atau kaya, apakah ia alim atau bejat, semua orang pastilah akan ditimpa
musibah dan kesedihan yang sama
TUHAN ITU MAHA ADIL
Jangan mengira andalah yang paling berhak menentukan segala sesuatu
untuk diri anda, jangan mengira bahwa anda lebih layak dapat musibah ini,
sedangkan orang lain lebih layak dapat musibah itu. Semua sudah “ditimbang” oleh
Allah berdasarkan peran kita masing-masing. Allah sudah tau siapa saja yang
mampu menerima setiap cobaan yang akan ditimpakan oleh-Nya.
Jadi janganlah gundah, wahai saudaraku. Jika anda sedang mengalami suatu
kesedihan, jangan merasa bahwa kesedihan itu begitu berat bagi anda dan tidak
dapat diobati. Janganlah merasa Allah tidak tahu keadaan diri kita dan
menimpakan musibah yang tidak sesuai dengan diri kita atau memberi beban yang
tidak mampu kita pikul.
Kesedihan anda PASTI akan hilang, pasti dapat diobati, PASTI dapat
anda atasi. Karena Allah sudah mengukur setiap kesedihan sesuai dengan
kemampuan kita masing-masing.
“Allah tidak membebani seseorang kecuali
sesuai dengan kemampuan (orang tersebut).” QS. Al Baqarah: 286
KENAPA HARUS TERJADI
BEGINI ?
Kenapa ini harus terjadi ?
Apa salahku kepada-Mu, ya Allah ?
Sebagia besar dari apa yang kita alami tidak kita ketahui penyebabnya. Kadang
suatu hal terjadi tanpa kita ketahui darimana asalnya, kita tidak tahu darimana
ia bisa terjadi seperti itu, dan kita tidak tahu apa akibatnya.
Manusia tidak bisa menentukan apa yang terjadi pada dirinya. Walaupun kita
sudah berusaha semaksimal mungkin mengantisipasi segala kemungkinan, tetap saja
yang terjadi kadang-kadang berada di luar kemampuan kita.
Sebagai contoh, ada seorang anak lelaki yang baik. Ia rajib belajar dan
berdoa, karena ia bersungguh-sungguh ingin mencapai masa depan yang baik untuk
dia sendiri maupun untuk kedua orangtuanya. Ia begitu memperhatikan keselamatan
dirinya sendiri. Ia merawat mobilnya dengan baik dan membawa kendaraannya
dengan hati-hati, bahkan sebelum berangkat pun ia selalu berdoa untuk diberi
keselamatan dalam perjalanan.
Tetapi pada suatu hari, ia mengalami kecelakaan fatal yang nyaris
merenggut nyawanya. Walaupun selamat, sayang sekali ia harus merelakan kedua
kakinya untuk diamputasi. Ya, sejak itu ia cacat seumur hidupnya. Masa depannya
yang begitu cerah seakan-akan hancur begitu saja didepan matanya.
Di saat berat seperti ini, jiwa yang kuat pun kdang-kadang tidak mampu
menerima beban sebesar itu. Lahi-lagi hati akan bertanya-tanya, “kenapa ini
harus terjadi, ya Allah? Padahal aku punya niat baik, aku sudah berusaha dengan
baik, aku sudah berdoa kepada-Mu dengan baik. Kenapa masih saja engkau timpakan
musibah ini?”
Jika dipikir-pikir, anak itu memang benar. Ia sudah berhati-hati, ia
sudah membawa mobilnya perlahan-lahan, ia selalu berdoa sebelum
berangkat,tetapi kenapa masih saja ia mengalami kecelakaan? Ia sudah
mengantisipasi semua hal, tetapi kenapa masih saja ditimpa kemalangan? Kenapa
hal ini harus terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang selalu di lontarkan oleh
orang-orang yang bingung, yang tidak mengerti kenapa sesuatu bisa terjadi
padanya. Adakah yang bisa menjawab semua ini? Mungkin anda bisa bertanya kepada
diri anda sendiri ribuan kali, anda bisa menanyakan kepada teman atau saudara
atau siapa saja, anda juga bisa menanyakan kepada Allah setiap malam, tetapi
saya yakin ANDA
TIDAK AKAN TAHU JAWABANNYA.
Kenapa aku ditimpa musibah seperti ini sedangkan orang lain ditimpa
musibah seperti itu? Hanya Allah-lah yang mengetahui jawabannya. Kita hanyalah
wayang-wayang yang telah peran yang telah diciptakan menjadi sopir, menjadi
orang alim, penjahat, dan sebagainya. Seiring dengan peran kita, Allah juga
telah menyiapkan suatu cerita untuk kita. Ada yang mendapat cerita
(kehidupan) yang indah, ada yang ditimpa musibah seperti ini, ada yang seperti
itu dan sebagainya.
“…. Katakanlah : sekiranya kamy berada
dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati itu juga ke
tempat mereka terbunuh. Dan Allah berbuat (demikian) untuk menguji apa yang ada
dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah maha
mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran : 154)
ayat diatas aslinya diturunkan kepada ummat Rasulullah saw. Yang tidak
mau mengikuti perintah nabi untuk
berperang karena mereka takut terbunuh. Ayat tersebut menjelaskan, walaupun
anda tinggal dirumah saja tetapi jika anda telah ditakdirkan untuk mati, tetap
tidak ada satu pun yang bisa menolaknya.
A.K (2014). Ya Allah, Tolong Aku. PT Elex Media Komputindo :
Jakarta.
No comments:
Post a Comment